Paris, 10 Oktober 2025 — Krisis Politik Prancis Belum Mereda. Hanya beberapa hari setelah mundur, Sébastien Lecornu kembali ditunjuk sebagai Perdana Menteri (PM) oleh Presiden Emmanuel Macron. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengembalikan stabilitas pemerintahan yang sempat kacau akibat keretakan di parlemen dan pembentukan kabinet yang gagal.
baca juga :
Jakarta Color Run Night Kembali Digelar
Pada 6 Oktober 2025, Lecornu mengajukan pengunduran diri setelah dia menghadapi tekanan dari partai oposisi dan anggota parlemen yang menolak komposisi kabinetnya. Namun, kemunduran itu berlangsung singkat — Presiden Macron kemudian memilih untuk menunjuknya kembali pada 10 Oktober 2025.
Latar & Kronologi Singkat
Kabinet Lecornu Pertama & Mundur Cepat
Sébastien Lecornu pertama kali diangkat sebagai PM pada 9 September 2025, menggantikan François Bayrou setelah kabinet Bayrou gagal mendapat dukungan parlemen.
Namun, setelah hanya 27 hari menjabat, Lecornu mundur pada 6 Oktober, setelah kabinet barunya dihadapkan kritik keras dan ancaman mosi tidak percaya sebelum sempat menjalankan tugas.
Penunjukan Kembali & Harapan Macron
Presiden Macron, menghadapi tekanan besar dari ketidakstabilan politik, memutuskan bahwa Lecornu harus kembali sebagai Perdana Menteri untuk mencoba membentuk pemerintahan yang bisa bekerja sama dengan parlemen.
Dalam pengumuman penunjukan kembali, Macron memberi Lecornu mandat untuk menyusun kabinet baru, menyelesaikan anggaran nasional 2026, dan meredam tekanan dari partai oposisi yang siap menjatuhkan pemerintahan lewat mosi tidak percaya.
Tantangan Pemerintahan Baru
Parlemen Terfragmentasi
Saat ini, Prancis tidak memiliki mayoritas stabil di Majelis Nasional (Assemblée Nationale). Koalisi Macron dan partai tengahnya harus bernegosiasi dengan berbagai fraksi dari sayap kiri dan kanan agar kabinet barunya bisa lolos uji kepercayaan.
Partai sayap kanan ekstrem (National Rally) dan partai kiri (La France Insoumise) mengkritik penunjukan ulang Lecornu sebagai langkah yang menghindari inklusivitas politik dan demokrasi.
Tekanan Anggaran & Reformasi
Salah satu tugas paling mendesak bagi Lecornu adalah menyusun anggaran 2026 dan menangani defisit negara. Selain itu, Macron dan pemerintahan barunya menghadapi pertanyaan sulit terkait reformasi pensiun yang kontroversial, pengeluaran publik, serta pertumbuhan ekonomi stagnan.
Analisis Penting
Penunjukan ulang Lecornu meskipun baru mundur menunjukkan bahwa Macron merasa pilihan terbatas dan lebih memilih stabilitas. Dari pada perubahan besar di tengah krisis.
Namun, Lecornu menghadapi dilema: jika ia tetap mempertahankan loyalitas dari kubu Macron, banyak partai lain akan menentangnya. Jika ia mencoba merangkul oposisi, bisa dianggap melemahkan posisi Macron sendiri.
Sebagai Perdana Menteri, Lecornu harus bergerak cepat untuk meredakan ketegangan politik. Memulihkan kepercayaan investor, dan memperlihatkan bahwa pemerintahan baru bukan sekadar pergantian nama.
Judul “Krisis Politik Prancis Belum Reda, Lecornu Kembali Jadi Perdana Menteri Beberapa Hari Setelah Mundur” mencerminkan betapa rapuhnya situasi politik Prancis saat ini. Meski mundur dalam waktu singkat, Lecornu kembali dipercaya memimpin dalam usaha menyatukan parlemen yang terpecah dan menyelesaikan agenda pemerintahan mendesak.
Perjalanan pemerintah baru ini akan sangat ditentukan oleh kemampuannya meraih dukungan partai. Implementasi kebijakan anggaran, dan kemampuan bertahan dari mosi tidak percaya. Dunia kini mengamati apakah Prancis bisa keluar dari krisis atau malah terperosok lebih dalam.









